Minggu, 21 Juli 2013

ETIKA BISNIS



Kata Pengantar
            puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik tanpa adanya kendala yang dapat menyulitkan saya dalam penyusunanya. Makalah ini yang berjudul ‘’ETIKA BISNS DAN BISNIS SEBUAH PROFESI ETIS’’.
            Dengan adanya makalah ini saya berharap para pembaca akan mendapat manfaat yang lebih banyak dan menambah wawasan kita mengenai etika-etika dalam berbisnis, supaya kita mengetahui berbisnis seperti apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan oleh karena itu saya membahas tentang etika bisnis dan bisnis sebuah profesi etis.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

            Etika bisnis merupakan etika dalam pelaksanaan bisnis dan dengan adanya etika bisnis maka pelaksanaan bisnis atau usaha yang kita kerjakan akan lebih mengarah kebisnis yang lebih baik tanpa adanya kecurangan yang dapat merugikan orang lain, etika yaitu kebiasaan/adat,akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir seseorang untuk melaksanakan bisnis.
            Dengan adanya etika bisnis maka setiap orang akan lebih berfikir bahwa usaha yang kita laksanakan dengan baik dan sesuai kode-kode etik yang mngarahkan kita pada kebaikan dalam usaha. Dan juga kita pasti akan berhadapan dengan adanya masalah-masalah yang terjadi dalam etika.


B.     Permasalahan

1.      Masalah apa saja yang dapat terjadi di dalam etika bisnis?
2.      Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi etika bisnis?
3.      Teori-teori seperti apa yang ada dalam etika bisnis?
4.      Prinsip seperti apa yang dapat dilaksanakan terjadi dalam etika binis?

C.     Tujuan penelitian

            Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang terjdi dalam etika bisnis, dan seperti apa penerapan teori-teori yang ada dalam etika bisnis, dengan adanya tujuan ini kita akan mengetahui lebih dalam lagi tentang penerapan teori dan menyelesaikan masalah yang terjadi, sehingga etika dalam berbisnis yang kita lakukan akan lebih bermanfaat.



           

BAB II
PEMBAHASAN
ETIKA BISNIS
A.    PENGERTIAN ETIKA

            Etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu ethos yg berarti: kebiasaan/adat,akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia (Poerwadarminta) etika adalah “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”
Menurut Drs. O.P. SIMORANGKIR  "etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. "
Menurut Magnis Suseno, "Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran.Yang memberi kita norma tentang bagaimana kita harus hidup adalah moralitas.
Ø  contoh-contoh etika dalam kehidupan sehari-hari,yaitu :
1.      Jujur tidak berbohong
2.      Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
3.      Lapang dada dalam berkomunikasi
4.      Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
5.      Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
6.      Tidak mudah emosi / emosional
7.      Berinisiatif sebagai pembuka dialog
8.      Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
9.      Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
10.   Bertingkah laku yang baik.

PENGERTIAN BISNIS
            Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggrisbusiness, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk” dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Jenis-jenis Bisnis
a.       Monopsoni
Monopsoni, adalah keadaan dimana satu pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar komoditas.Kondisi Monopsoni sering terjadi didaerah-daerah Perkebunan dan industri hewan potong (ayam), sehingga posisi tawar menawar dalam harga bagi petani adalah nonsen. Perlu diteliti lebih jauh dampak fenomena ini, apakah ada faktor-faktor lain yang menyebabkan Monopsoni sehingga tingkat kesejahteraan petani berpengaruh.
Contohnya : hanya ada satu perusahaan yang menangani kereta api di Indonesia yaitu, PT.KAI
b.      Monopoli (dari bahasa Yunani: monos, satu + polein, menjual) adalah suatu bentuk pasardi mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai “monopolis”.Sebagai penentu harga (price-maker), seorang monopolis dapat menaikan atau mengurangi harga dengan cara menentukan jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu keterbatasan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga terlalu mahal, maka orang akan menunda pembelian atau berusaha mencari atau membuat barang subtitusi (pengganti) produk tersebut atau lebih buruk lagi mencarinyadi pasar gelap.
c.       Oligopoli adalah adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk kedalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.
d.      Oligopsoni, adalah keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar komoditas.

PENGERTIAN ETIKA BISNIS
            Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005).
            Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:

1.      Pengendalian diri
2.       Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
3.       Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4.       Menciptakan persaingan yang sehat
5.      Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6.      Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7.      Mampu menyatakan yang benar itu benar
8.      Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9.      Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10.  Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11.  Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan.

            Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan  individu,  perusahaan, industri dan juga masyarakat.

Ø  Ada 3 jenis masalah yang dihadapi dalam Etika yaitu
1.      Sistematik
            Masalah-masalah sistematik dalam etika bisnis pertanyaan-pertanyaan etis yang muncul mengenai sistem ekonomi, politik, hukum, dan sistem sosial lainnya dimana bisnis beroperasi.
2.      Korporasi
            Permasalahan korporasi dalam perusahaan bisnis adalah pertanyaan-pertanyaan yang dalam perusahaan-perusahaan tertentu. Permasalahan ini mencakup pertanyaan tentang moralitas aktivitas, kebijakan, praktik dan struktur organisasional perusahaan individual sebagai keseluruhan.
3.      Individu
                  Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan yang muncul seputar individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini termasuk pertanyaan tentang moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.

B.     FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN BISNIS
1.      Budaya perusahaan
      Lingkungan budaya meliputi pembentukan sistem nilai dan penciptaan nilai bersama yang menjadi bagian dalam peningkatan etos kondisi lingkunga yang selalu berubah. Budaya perusahaan ini melibatkan seluruh jejeran dari manajemen puncak sampai pelaksana sampai bawah.
2.      Etika dan tanggung jawab
      Lingkungan etika dan tanggung jawab sosial merupakan niali-nilai yang terkait pada persepsi seseorang pada tanggung jawabnya terhadap pemilik modal, karyawan, pemerintah, konsumen, supplir, dan perusahaan lain.

3.      Dampak perubahan lingkungan bisnis
      Kegiatan bisnis adalah salah satu aspek kegiatan pembangunan yang amat luas dimensinya,seperti kegiatan produksi dan pemasaranyang kait mengait. Antara kegiatan bisnis dengan perubahan sosial dalam masyarakat, baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional terdapat hubungan yang saling mempengaruhi.

C.    TEORI ETIKA BISNIS
a.       Norma Umum
      Norma Umum bersifat umum dan sampai pada tingkat tertentu boleh dikatakan bersifat universal. Norma umum terdiri dari :
1.      Norma Sopan santun adalah norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah dalam pergaulan sehari-hari
2.      Etika tidak sama dengan Etiket. Etiket hanya menyangkut perilaku lahiriah yang menyangkut sopan santun atau tata krama
3.      Norma Hukum adalah norma yang dituntut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
4.      Norma Moral, yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia
b.      Teori Etika Deontologi
                        Istilah deontologi berasal dari kata  Yunani ‘deon’ yang berarti        kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak          sebagai buruk’, deontologi menjawab : ‘karena perbuatan pertama menjadi           kewajiban  kita dan karena perbuatan kedua dilarang’.
            Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban.      Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang          merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
Ada tiga prinsip yg harus dipenuhi Supaya tindakan punya nilai moral, tindakan ini harus dijalankan berdasarkan kewajiban.
1.       Nilai moral dari tindakan ini tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu, berarti kalaupun tujuan tidak tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik
2.      Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip ini, kewajiban adalah hal yang niscaya dari tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hukum moral universal
c.       Teori Etika Teleologi
          Teleologi berasal dari kata Yunani,  telos = tujuan. Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Dua aliran etika teleologi :
Egoisme Etis
                        Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya.
                        Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
Utilitarianisme
                        Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
                        Utilitarianisme , teori ini cocok sekali dengan pemikiran ekonomis, karena cukup dekat dengan Cost-Benefit Analysis. Manfaat yang dimaksudkan utilitarianisme bisa dihitung sama seperti kita menghitung untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis.
D.    BISNIS SEBUAH PROFESI ETIS
a.       Etika Terapan
            Secara umum Etika dibagi menjadi :
1.      Etika Umum
           Berbicara mengenai norma dan nilai moral, kondisi-kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembaga-lembaga normatif dan semacamnya.
2.      Etika Khusus
           Penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.
Yang termasuk dalam etika khusus adalah
Ø  Lingkungan hidup
Mencangkup dalam kehidupan yang terjadi dalam kehidupan seorang pengusaha untuk memajukan lagi usaha yang ia pegang, dan merupakan cabang etika yang dibicarakan.
Ø  Individual
Menyangkut kewajiban sesorang dalam hidupnya pribadi.
Ø  Sosial
Berbicara mengenai hak sikap dan kewajiban pola prilaku manusia sebagai mahluk sosial dan interaksi terhadap sesamanya.

b.      Etika Profesi
1.      Pengertian Profesi
            Profesi dapat dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan mengandalkan keahlian dan keterampilan yang tinggi dan dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam.
2.      Prinsip-prinsip etika profesi
• Prinsip Keadilan
            Prinsip ini terutama menuntut orang yg profesional agar dlm menjalankan profesinya ia tidak merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu, khususnya orang-orang yang dilayani dalam rangka profesinya
• Prinsip Otonomi
            Prinsip yang dituntut oleh kalangan profesional terhadap dunia luar agar mereka diberi kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan profesinya. Karena hanya kaum profesional ahli dan terampil dalam bidang profesinya, tidak boleh ada pihak luar yang ikut campur tangan dalam pelaksanaan profesi tersebut
Batas-batas prinsip otonomi :
Ø  Tanggung jawab dan komitmen profesional (keahlian dan moral) atas kemajuan profesi tersebut serta (dampaknya pada) kepentingan masyarakat
Ø  Kendati pemerintah di tempat pertama menghargai otonomi kaum profesional, pemerintah tetap menjaga, dan pada waktunya malah ikut campur tangan, agar pelaksanaan profesi tertentu tidak sampai merugikan kepentingan umum.
            Setelah melihat penting dan relevansi etika bisnis ada baiknya jika kita tinjau lebih lanjut apa saja sasaran dan lingkup etika bisnis itu. Ada tiga sasaran dan ruang lingkup pokok etika bisnis di sini, yaitu:
1.      Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi, dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis. Dengan kata lain, etika bisnis pertama-tama bertujuan untuk menghimbau para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis secara baik dan etis.
2.      Menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh, atau karyawan dan masyarakatluas pemilik aset umum semacam lingkungan hidup, akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis siapa pun juga. Pada tingkat ini, etika bisnis berfungsi untuk menggugah masyarakat untuk bertindak menuntut para pelaku bisnis untuk berbisnis secara baik demi terjaminnya hak dan kepentingan masyarakat tersebut. Etik bisnis mengajak masyarakat luas, entah sebagai kartawan, konsumen, atau pemakai aset umum lainnya yan gberkaitan dengan kegiatan bisnis, untuk sadar dan berjuang menuntut haknya atau paling kurang agar hak dan kepentingannya tidak dirugikan oleh kegiatan bisnis pihak mana pun.
3.      Etika bisnis juga berbicara mengenai sistem ekonomi yang sangat menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis lebih bersifat makro, yang karena itu barang kali lebih tepat disebut etika ekonomi. Dalam lingkup makro semacam ini, etika bisnis berbicara mengenai monopoli, oligopoli, kolusi, dan praktek-praktek semacamnya yang akan sangatmempengaruhi tidak saja sehat tidaknya suatu ekonomi melainkan juga baik tidaknya praktek bisnis dalam sebuah negara.

Etika Bisnis Yang Baik
          Menurut Richard De George, bila perusahaan ingin sukses/berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu:
1.    Produk yang baik
2.   Managemen yang baik
3.    Memiliki Etika
Tiga aspek pokok dari bisnis yaitu : dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika yaitu :.
Sudut pandang ekonomis.
Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi disini adalah adanya interaksi antara produsen/perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Kegiatan antar manusia ini adalah bertujuan untuk mencari untung oleh karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi dilakukan melalui interaksi yang melibatkan berbagai pihak. Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.
Sudut pandang etika (moral).
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Tidak semua yang bisa kita lakukan boleh1 dilakukan juga. Kita harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Pantas diperhatikan, bahwa dengan itu kita sendiri tidak dirugikan, karena menghormati kepentingan dan hak orang lain itu juga perlu dilakukan demi kepentingan bisnis kita sendiri
Sudut pandang Hukum
            Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terikat dengan “Hukum” Hukum Dagang atau Hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun international. Seperti etika, hukum juga merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum lebih jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam atas putih dan ada sanksi tertentu bila terjadi pelanggaran. Bahkan pada zaman kekaisaran Roma, ada pepatah terkenal : “Quid leges sine moribus” yang artinya : “apa artinya undang-undang kalau tidak disertai moralitas “
Prinsip – Prinsip Etika Bisnis
Adapun prinsip-prinsip etika bisnis yaitu:
a.        Prinsip otonomi
Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.
b.        Prinsip Kejujuran
Untuk Kejujuran dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak dan untuk kejujuran dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga sebanding
c.        Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif dan dapat dipertanggung jawabkan.
E.     ETIKA BISNIS DALAM ISLAM
          Islam, melalui tauladan Rasulullah Saw dan para Khalifah Rasyidin yang selalu terjaga tindakannya, menunjukkan betapa pentingnya arti perdagangan atau bisnis. Abu Bakar ra menjalankan usaha perdagangan pakaian, Umar ra memiliki bisnis perdagangan jagung, Usman ra juga memilki usaha perdagangan pakaian. Kaum Anshar yang mengikuti Rasulullah Saw menjalankan usaha pertanian. Sebenarnya, kecuali untuk perdagangan yang telah dilarang, Islam secara aktif mendorong kaum Muslimin untuk melakukan bisnis perdagangan, sebagaimana hadist Rasulullah Saw saat ditanya mengenai apakah mata pencaharian yang paling baik? Beliaupun menjawab ‘pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri dan setiap transaksi bisnis yang disepakati’”. Mencari uang melalui perdagangan apapun asalkan halal, sangat dianjurkan daripada melakukan transaksi yang dilarang dan perbuatan meminta-minta.
          Ketika sibuk berpartisipasi, dalam kehidupan ini, seorang muslim harus selalu menyeimbangkan dan konsisten dalam melaksanakan ibadah maupun dalam kehidupan bisnisnya sehari-hari, serta harus dapat menghindari praktik bisnis yang dilarang. Dalam menjalankan semua kegiatan bisnis duniawi, tentunya Islam memiliki pedoman atau etika dalam menjalankan suatu pekerjaan itu, untuk membatasi kerangka acuan dan tujuan yang ingin dicapai agar tetap terjaga dalam naungan Syari’ah. Ada beberapa prinsip Islam yang dapat dijadikan tuntunan dalam kita berbisnis, diantaranya yaitu :
a.       Jujur dan berkata benar
b.      Menepati janji
c.       Adil dan rendah hati dalam menjalani hidup
d.      Menjalankan musyawarah untuk memecahkan masalah
e.       Tidak melakukan risywah (suap) dan tidak terlibat dalam kecurangan
Secara detil, terdapat beberapa konsep kunci yang membentuk sistem etika Islam, diantaranya yaitu keesaan, keseimbangan, tanggung jawab, kebajikan dan kehendak bebas.
1.      Konsep keesaan. Konsep ini berhubungan dengan konsep tauhid. Penerapannya dalam etika bisnis  diantaranya yaitu : pertama,  seorang pengusaha muslim tidak akan menimbun kekayaan dengan penuh keserakahan. Konsep kepercayaan dan amanah memiliki makna yang sangat penting baginya karena ia sadar bahwa semua harta dunia bersifat sementara, dan harus dipergunakan sebaik mungkin. Tindakan kaum muslimin tidak semata-mata merujuk kepada keuntungan, dan tidak mencari kekayaan dengan cara apapun. Ia menyadari bahwa : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan di dunia, namun amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di mata Allah Swt dan tidak baik sebagai landasan harapan-harapan”.Kedua, Seorang pengusaha muslim tidak akan bisa dipaksa (disuap) oleh siapapun untuk berbuat tidak etis, karena ia hanya takut dan cinta kepada Allah Swt. Ia selalu mengikuti alur perilaku yang sama  dimanapun ia berada apakah itu di masjid, di dunia kerja  atau aspek apapun dalam kehidupannya, dan ia selalu merasa bahagia. Ketiga, pengusaha tersebut tidak akan berbuat diskriminatif terhadap pekerja, pemasok, pembeli, atau para pemegang saham perusahaaan tersebut atas dasar ras, agama, kulit dan lain sebagainya.
2.      Konsep keseimbangan. Prinsip keseimbangan atau kesetaraan berlaku baik secara harfiah maupun kias dalam dunia bisnis. Sebagai contoh, Allah memperingatkan para pengusaha Muslim untuk ;”sempurnakanlah takaranmu apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar, itulah yang lebih utama dan lebih baik akibatnya”. Seperti yang dapat kita lihat pada ayat ini, sebuah transaksi yang seimbang adalah setara dan adil. Seorang pengusaha muslim, tidak melakukan kecurangan dalam takaran di pasaran dengan tujuan untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak dengan merugikan pihak lain, karena ini merupakan perbuatan dzolim yang sangat dibenci Allah Swt. Dalam konsep ini juga, Islam mengekang kecenderungan pebisnis bersikap serakah dan kecintaannya untuk memiliki barang-barang, yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap kikir maupun boros yang keduanya dikutuk baik dalam Al-Qur’an dan Hadist.
3.      Konsep tanggung jawab.  Jika seorang pengusaha muslim berperilaku secara tidak etis, ia tidak dapat menyalahkan tindakannya pada persoalan tekanan bisnis ataupun pada kenyataan bahwa setiap orang juga berperilaku tidak etis. Ia harus bertanggung jawab atas tindakan yang ia lakukan. Allah Swt berfirman :”Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Semua kewajiban harus dihargai kecuali jika secara moral ia salah. Semua perusahaan harus bersikap pro aktif berkaitan dengan persoalan tanggung jawab sosial. Mereka dituntut tampil sebagai pakar-pakar strategi kepercayaan dalam mengembangkan sejumlah piranti keuangan untuk meningkatkan perekonomian umat.
4.      Konsep kebajikan, kebajikan atau kebaikan terhadap orang lain didefinisikan sebagai tindakan yang menguntungkan orang lain.  Perbuatan kebaikan sangat dianjurkan didalam Islam, Rasulullah Saw pernah berkata : “ penghuni surga terdiri dari tiga kelompok : yang pertama, adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan bertindak lurus dan adil,  yang kedua adalah mereka yang jujur dan diberikan kelebihan kekuasaan untuk berbuat hal-hal yang baik, dan mereka yang berhati pemurah dan suka menolong keluarganya serta setiap muslim yang shaleh, dan yang ketiga adalah mereka yang tidak mengulurkan tangannya meski memiliki banyak keluarga yang harus dibantu”
            Penerapan konsep kebajikan dalam etika bisnis menurut Al Ghazali, terdapat lima bentuk kebajikan :pertama, jika seseorang membutuhkan sesuatu, maka orang lain harus memberikannya dengan mengambil keuntungan yang sedikit mungkin, jika sang pemberi melupakan keuntungannya, maka hal tersebut akan lebih baik baginya. Kedua, jika seseorang membeli sesuatu dari orang miskin, akan lebih baik baginya untuk kehilangan sedikit uang dengan membayarnya lebih dari harga yang sebenarnya. Tindakan seperti ini akan memberikan akibat yang mulia. Bukan suatu hal yang patut dipuji untuk membayar orang kaya lebih dari apa yang seharusnya diterima manakala ia dikenal sebagai orang yang suka mencari keuntungan yang tinggi. Ketiga, dalam mengabulkan hak pembayaran dan pinjaman, seorang pebisnis Islam harus bertindak secara bijaksana dengan memberi waktu yang lebih banyak kepada sang peminjam untuk membayar hutangnya dan jika diperlukan, seseorang harus membuat pengurangan pinjaman untuk meringankan beban sang peminjam. Keempat, ketika pebisnis menjual barang secara kredit kepada seseorang, ia harus cukup bermurah hati, tidak memaksa membayar dalam waktu yang telah ditetapkan. Kelima, barang atau uang yang dipinjam harus dikembalikan tanpa diminta.
5.    Konsep kehendak bebas. Berdasarkan konsep kehendak bebas, manusia     memilki kebebasan untuk membuat kontrak dan menepatinya ataupun mengingkarinya. Seorang muslim, yang telah menyerahkan hidupnya pada kehendak Allah Swt, akan menepati semua kontrak yang telah dibuatnya. Berdasarkan firman-Nya ;”Hai orang –orang beriman! Penuhilah semua perjanjian itu”. Dalam ayat tersebut, Allah Swt memerintahkan kepada kaum muslimin untuk memenuhi akad yang telah disepakati. Juga kewajiban bisnis kita kontrak formal mengenai tugas-tugas tertentu yang harus dilakukan ataupun kontrak tak tertulis mengenai perlakuan layak yang harus diberikan kepada para pekerja .kaum muslimin  harus mengekang kehendak bebasnya untuk bertindak berdasarkan aturan-aturan moral seperti yang telah digariskan Allah .

            Meskipun konsep-konsep diatas menuntun kita dalam tingkah laku sehari-hari, konsep-konsep tersebut lebih merupakan deskriptif filsafat etika bisnis Islam. Al-Qur’an dan sunnah melengkapi  konsep-konsep ini dengan merumuskan tingkat keabsahan hukum bentuk-bentuk perilaku penting sebagaimana bisnis pengusaha. Dalam melihat perilaku etis seseorang, sangatlah penting bagi kaum muslim baik untuk menghindari hal-hal yang tidak halal dan juga menghindari hal-hal yang tidak halal menjadi sesuatu yang halal. Hal yang sebaliknya juga berlaku sama,
            Dengan demikian, secara umum kewajiban seorang muslim untuk bermuamalah dalam kehidupannya adalah untuk bertindak secara etis.     Jika kita pernah melakukan kesalahan dalam bertransaksi sehari-hari, maka kita dapat mengubahnya dengan etika bisnis yang lebih baik lagi seperti yang disebutkan di atas untuk menghindari terjadinya perbuatan dzalim dan merugikan pihak lain serta diridhoi oleh Allah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu ‘A’lam Bisshawab. (Penulis Adalah Mahasiswa Perbankan Syari’ah STAIN Curup).
F.     ETIKA BISNIS DAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL
          Begitu cepatnya perkembangan yang terjadi dalam dunia bisnis, hingga secara akumulasi mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi, ternyata aspek pertumbuhan itu kurang diimbangi dengan pemertaan, maka terjadilah kasus kesenjangan sosial dan ekonomi. Kesenjangan makin melebar jika upaya kearah pemerataan tidak dijalankan secara intensif. Prinsip umum dalam dunia bisnis, yakni mencari benefit yang maksimum. Faktor modal dan berbagai sumberdaya dikerahkan untuk mendapatkan out put yang memiki nilai lebih. Untuk mencapai sasaran tersebut banyak hal yang harus “dikorbankan”, meskipun “pengorbanan” itu secara tidak langsung.
          Dalam konteks “pengorbanan” tersebut seringkali terjadi penyimpangan, umpamanya tenaga kerja yang dibayar tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, hingga upah tersebut tidak bisa menutupi kebutuhan dasar (basic need) dari tenaga kerja. Dalam model relasi yang demikian, berarti unsur tenaga kerja yang mensubsidi pelaku bisnis. Lantas, apakah hal tersebut tidak menyimpang dari etika bisnis? Apakah pelaku bisnis yang bertindak bisa dikatakan memiliki tanggungjawab sosial?
            Tenaga kerja merupakan faktor produksi, di samping modal, bahan baku, mesin dan lahan. Para pelaku bisnis biasanya berupaya menekan ongkos produksi, yakni untuk memperoleh benefit yang maksimum. Upah tenaga kerja yang dibayar rendah merupakan langkah efisiensi yang sangat keliru. Sebab, bagaimanapun tingkat upah ini akan berkaitan erat dengan tingkat produktivitas. Upah yang rendah menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan fisik minimum (KFM), lebih jauh lagi akan menimbulkan penurunan motivasi kerja. Padahal, tenaga kerja merupakan aset terpenting bagi setiap perusahaan, merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahya produktivitas dan efisiensi perusahaan.
            Etika Bisnis dan HIP
            Mulai tahun 1975 diperkenalkan kebijaksanaan mengenai ketenagakerjaan dalam bentuk HIP (hubungan Industrial Pancasila). Di dalam HIP diatur antara pelaku proses produksi (tenaga kerja), pengusaha pemilik modal (pelaku bisnis), konsumen dan pemerintah, supaya antara unsur-unsur tersebut terjadi interaksi dengan sifat saling mufakat dan saling merasa memiliki. Dalam HIP juga pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai KKB (Kesepakatan Kerja Bersama), yang meliputi ketentuan upah minimum (KUM), jaminan keselamatan kerja dan tunjangan.
            Etika bisnis dalam kaitannya dengan masalah ketenagakejaan sebenarnya sudah cukup dirinci di dalam HIP. Tetapi, ternyata sampai saat ini penyimpangan-penyimpangan dari etika tersebut sering terjadi.
            Agar perkembangan bisnis selalu dalam kondisi yang sehat, maka etika bisnis harus tetap ditegakkan. Sebab, bagaimanapun bisnis bukan sekedar kegiatan ekonomi semata, tetapi, juga menyangkut tanggungjawab sosial. Bisnis akan terus tumbuh jika lingkungan sosial kondusif. Lingkungan sosial meliputi tenaga kerja dengan segenap permasalahannya. Gejolak sosial yang muncul, seperti dalam bentuk aksi pemogokan, akan menimbulkan kemandegan pertumbuhan perusahaan.
Menyangkut Masyarakat
            Bisnis tumbuh ditengah-tengah masyarakat, bahkan segala aktivitas selalu berkaitan erat dengan masyarakat. Dengan demikian masyarakat senantiasa menerima dampak eksternal dari berbagai kegiatan bisnis, baik dampak positif atau negatif.
            Umpamanya dengan pembukaan industry baru, dampak eksternal positif yang muncul, antara lain terjadinya penyerapan tenaga kerja. Selain itu, terjadi juga peningkatan pendapatan masyarakat di sekitarnya. Dengan munculnya bisnis baru ditengah-tengah masyarakat, bisa memacu kegiatan perekonomian domestic. Hal itu ditandai dengan meningkatnya keluar masuk uang dan barang, juga sarana transportasi menjadi tersedia. Beberapa kota baru tiba-tiba muncul dan banyak diekspos, misalnya Cikampek, Cikarang, Cilegon, Bontang, Batam dan Lhoksumawe. Kota-kota kecil tersebut dulunya kurang dikenali, lantas mendapat perhatian besar, antara lain karena kehadiran berbagai aktivitas bisnis, terutama sektor industri.
            Dengan munculnya kawasan bisnis baru, masyarakat disekitarnya akan mengalami transformasi sosial, ekonomi bahkan budaya. Arah transformasi tersebut bisa positif, bisa pula sebaliknya. Contoh yang negatif, umpamanya meningkatnya budaya komsumerisme dan pemindahan status kepemilikan lahan.
            Dengan dibukanya kawasan industri baru atau pusat-pusat bisnis, terjadilah upaya pembebasan tanah, kasus ini bisanya menyebabkan kekurangpuasan dalam hal ganti-rugi, yang penyelesaiannya bisa berlarut-larut. Jika penanganan proses “pemindahan status pemilik lahan” ini kurang seksama dan tidak disertai tanggungjawab sosial, maka bisa menimbulkan dampak eksternal bisnis yang negatif, yakni meluasnya pengangguran dan kemiskinan.
            Kehadiran berbagai sektor bisnis di tengah-tengah masyarakat, selalu menimbulkan dampak eksternal positif dan negatif. Masalahnya, jenis dampak eksternal yang mana paling dominan. Di sinilah letak pentingnya etika bisnis dan tanggungjawan sosial, bisnis tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga berupaya untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Paling tidak, kegiatan bisnis tersebut tidak merugikan masyarakat.
Menyangkut Lingkungan
            Aktivitas bisnis terutama sektor industri, seringkali menimbulkan dampak lingkungan yang negatif. Dalam berbagai proses produksi dihasilkan gas polutan atau limbah bentuk padat dan cair. Dampak dari pelimbahan yakni merosotnya mutu lingkungan yang secara langsung menyebabkan merosot pula mutu hidup masyarakat sekitarnya. Udara yang dihirup menjadi tercemar. Selain itu, limbah banyak berupa racun yang dapat mengancam kelangsungan hidup masyarakat.
            Jika kasus pelimbahan dan polutan sudah tak terkendalikan lagi, maka sudah menunjukkan terjadinya penyimpangan etika bisnis dan degredasi tanggungjawab sosial dari pelaku-pelaku bisnis. Padahal biaya kompensasi untuk merehabilitasi lingkungan yang rusak jauh lebih mahal, juga biaya itu hanya sebagian kecil saja yang ditanggung pelaku bisnis, sebagian besar lainnya justru ditanggung oleh anggota masyarakat yang bersangkutan, atau subsidi dari pemerintah. Ternyata, berbagai aktivitas bisnis memerlukan filosofi bisnis, yakni etika bisnis dan tanggungjawab sosial, yang harus benar-benar di realisasikan, antara lain untuk meredam terjadinya dampak internal atau eksternal yang negatif. Dengan diterapkannya etika bisnis yang disertai tanggungjawab sosial, bisnis akan tumbuh dan berkembang karena terciptanya iklim dan lingkungan yang kondusif. Bisnis dalam kondisi yang demikian diharapkan bisa memacu terjadinya pemerataan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa etika bisnis sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik dalam berbisnis maupun tidak, karena setiap orang harus memiliki etika untuk mengatur dan membiasakan diri dalam prilaku sehari-hari, apalagi etika dalam berbisnis yang kita terapkan dengan baik maka akan mampu memacu pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga dapat memakmurkan masyarakat yang kurang mampu.
            Dengan adanya etiket baik yang kita tanamkan dalam diri kita maka kita akan selalu melakukan kebaikan tanpa mengharapkan imbalan, dan selalu akan memikirkan orang lain yang kurang beruntung seperti kita. Dan etika bisnis juga dapat membuat sebuah perusahaan akan berhasil jika memiliki tiga etika baik yaitu produk yang baik, manajemen yang baik dan memiliki etika.